Indonesia, Harus Jadi Pemimpin Karbon Bermartabat
Azharuddin – Perhimpunan Teropong
Perdagangan karbon adalah medan baru. Di dalamnya terkandung harapan, sekaligus ancaman. Ia bisa menjadi jalan menuju ekonomi hijau yang adil, atau jebakan yang membuat kita sekadar penyedia kredit murah bagi bangsa lain.
Indonesia kini berdiri di persimpangan. Kita memiliki hutan tropis yang luas, gambut yang dalam, dan mangrove yang kuat. Kita adalah paru-paru dunia. Tetapi paru-paru itu bisa menjadi kekuatan hanya jika kita berdaulat atasnya. Tanpa kendali, kita bisa kehilangan hak kita sendiri.
Bahaya yang Mengintai
Mari kita hadapi kenyataan dengan jujur. Ada bahaya di depan mata.
Bahaya pertama adalah kehilangan kendali. Jika sistem kita lemah, data emisi bisa direbut pihak lain, kredit karbon bisa diklaim ganda, dan kita hanya menjadi penonton dalam permainan yang seharusnya kita kuasai.
Bahaya kedua adalah ketidakadilan sosial. Jika proyek karbon berjalan tanpa menghormati hak adat, tanpa membagi manfaat kepada masyarakat lokal, maka akan lahir konflik, kekecewaan, dan bahkan gugatan hukum. Karbon yang seharusnya menjadi berkah akan berubah menjadi kutukan.
Bahaya ketiga adalah korupsi karbon. Manipulasi data, kredit fiktif, laporan palsu—semua itu bisa merusak kredibilitas kita di mata dunia. Dan sekali kepercayaan hilang, butuh puluhan tahun untuk mengembalikannya.
Strategi yang Harus Kita Ambil
Menghadapi bahaya, kita tidak boleh ragu. Strategi kita harus jelas, tegas, dan tak tergoyahkan.
Pertama, kuatkan kelembagaan. Indonesia membutuhkan sistem nasional yang solid, dengan pusat dan daerah berjalan seiring. Tanpa lembaga yang jelas, karbon hanya akan menjadi rebutan antaraktor.
Kedua, tegakkan regulasi dan keadilan. Benefit sharing harus nyata: masyarakat adat, desa, dan kelompok rentan harus mendapat bagian yang adil. Tidak boleh ada satu desa pun yang menjaga hutan tanpa mendapat manfaat dari pengorbanannya.
Ketiga, bangun sistem MRV yang transparan. Dunia hanya percaya pada data yang jernih. Kita harus menunjukkan bahwa setiap ton karbon yang kita klaim benar-benar tersimpan di hutan dan gambut kita.
Keempat, inklusi sosial adalah harga mati. Tidak ada proyek karbon tanpa persetujuan bebas, didahului, dan diinformasikan (FPIC) dari masyarakat. Tidak ada pembangunan hijau tanpa keterlibatan perempuan, pemuda, dan komunitas adat.
Kelima, kuasai panggung global dengan diplomasi yang tangguh. Indonesia tidak boleh puas menjadi pemasok kredit murah. Kita harus tampil sebagai penentu harga, pembuat aturan, dan pemimpin moral dalam perdagangan karbon dunia.
Kalimantan Tengah sebagai Laboratorium Masa Depan
Dan di mana semua strategi ini akan diuji? Salah satunya di Kalimantan Tengah.
Kalteng adalah laboratorium masa depan karbon Indonesia. Jika di sini tata kelola karbon bisa berjalan transparan, jika masyarakat adat Dayak mendapat tempat terhormat, jika desa memperoleh manfaat nyata, maka dunia akan melihat: Indonesia mampu.
Namun jika di Kalteng terjadi konflik tenurial, jika kredit dijual tanpa izin masyarakat, jika keuntungan hanya masuk ke segelintir orang, maka dunia pun akan tahu: Indonesia gagal menjaga rumahnya sendiri.
Maka, Kalteng harus menjadi panggung pembuktian. Pusat bisa membuat aturan, tetapi daerahlah yang melaksanakan. Di sini kita buktikan bahwa perdagangan karbon bukan hanya untuk investor, tetapi juga untuk petani, nelayan, dan masyarakat adat.
Jalan yang Kita Pilih
Sejarah bangsa ini selalu ditulis dengan pilihan besar. Kita pernah memilih untuk merdeka ketika dunia meragukan kita. Kita pernah memilih untuk bersatu ketika perpecahan mengintai. Kini kita dihadapkan pada pilihan baru: bagaimana kita mengelola karbon—aset masa depan umat manusia.
Jika kita memilih dengan benar, perdagangan karbon akan menjadi tonggak. Ia akan membawa kita pada ekonomi baru yang hijau, adil, dan berdaulat. Jika kita lengah, ia bisa menjadi jerat yang membuat kita kehilangan kendali atas hutan kita sendiri.
Saya percaya, dengan keberanian dan kebijaksanaan, Indonesia mampu memilih jalan yang benar. Dan saya percaya, Kalimantan Tengah—dengan hutan dan gambutnya—dapat menjadi teladan.
Maka mari kita tegaskan di hadapan dunia bahwa Indonesia tidak akan menjadi penyedia karbon murah. Indonesia akan menjadi pemimpin karbon bermartabat. Indonesia akan menjaga kendali, menegakkan keadilan, dan membuktikan bahwa masa depan hijau bukan sekadar mimpi, tetapi kenyataan.