Kelakuan Absurd Pengemudi di Jalan Raya: alat analisis sosial – versi “komedi nyata”

Published by Yudha Agung on

Azharuddin – Perhimpunan Teropong

Jalan Raya sebagai Cermin Realitas Sosial Indonesia

Jalan raya sering dianggap sebatas ruang teknis untuk memindahkan kendaraan dari satu titik ke titik lain. Padahal, sosiolog Sally Raskoff mengingatkan bahwa marka jalan, garis putih, dan lampu lalu lintas adalah metafora konkret bagi struktur masyarakat: tanda‐tanda itu memberi tahu kita “arah yang benar”, sebagaimana norma sosial membimbing perilaku. Ketika jutaan orang berbagi aspal setiap hari, kita menawar siapa duluan, berbagi risiko hidup mati, sekaligus menguji kesadaran kita pada aturan. Pelanggaran kecil, seperti menerobos lampu merah, menyebabkan kekacauan dalam ruang jalan sebagaimana pelanggaran norma menyebabkan kekacauan sosial. Dengan demikian, perilaku berkendara bukan soal keterampilan teknis semata, melainkan cermin mentalitas dan etika sosial bangsa.

Para ahli keselamatan jalan menegaskan bahwa perilaku manusia sangat dipengaruhi oleh lingkungan fisik dan sosial; desain jalan, kebijakan, dan norma bersama membentuk apa yang kita lakukan meski kita jarang menyadarinya. Penelitian menunjukkan bahwa faktor internal saja tidak cukup menjelaskan perilaku berisiko; berbagai jenis norma – norma subjektif, norma kelompok, norma moral, norma injunktif, dan norma deskriptif – memiliki hubungan signifikan dengan perilaku berkendara. Hal ini memperkuat pandangan bahwa jalan raya adalah panggung pertemuan antara struktur sosial dan kebiasaan individual, bukan sekadar tempat mesin bergerak.

Dalam kajian teori sosial, Pierre Bourdieu menyebut rangkaian kebiasaan yang membentuk tindakan tanpa disadari sebagai habitus. Habitus merupakan “sistem disposisi yang tahan lama” yang menjadi prinsip generatif tindakan tanpa harus disadari. Banyak kelakuan absurd di jalan – misalnya zig‑zag ekstrem atau membunyikan klakson terus menerus – bisa dipahami sebagai hasil habitus berkendara yang terbentuk dalam lingkungan yang permisif. Sementara itu, Émile Durkheim menegaskan bahwa totalitas keyakinan dan perasaan yang dimiliki anggota masyarakat membentuk suatu sistem dengan kehidupan sendiri, yaitu kesadaran kolektif. Kesadaran kolektif inilah yang melandasi “solidaritas mekanik” masyarakat tradisional, di mana kohesi lahir dari keserupaan, serta “solidaritas organik” masyarakat modern, di mana kohesi lahir dari saling ketergantungan. Di jalan raya Indonesia kita sering melihat solidaritas sempit: komunitas tertentu merasa berhak menguasai jalur, sementara solidaritas yang lebih luas terhadap pengguna lain diabaikan.

Sosiologi interaksionis simbolik juga relevan untuk memahami fenomena ini. Mengemudi bukan hanya aktivitas individual; ia juga proses sosial di mana orang mengekspresikan identitas dan membaca reaksi orang lain. Karen Sternheimer menjelaskan bahwa pilihan mobil, stiker, atau cara berkendara mencerminkan makna sosial yang kita asosiasikan dengan diri. Keselamatan di jalan mensyaratkan kemampuan mengantisipasi tindakan pengendara lain; pengemudi yang melanggar ekspektasi bersama meningkatkan risiko bagi semua. Dengan bingkai teori tersebut, daftar berikut menjadi jendela kecil untuk membaca mentalitas kolektif kita.


Tiga Puluh Kelakuan Absurd yang Nyata

  1. Sein kiri, belok kanan – pengemudi memaksa semua orang di sekitarnya punya bakat cenayang.
  2. Mendahului dari kiri padahal sempit – seolah kendaraan punya jurus sulap “menyempitkan badan”.
  3. Gas + klakson, minus rem – dunia harus ikut irama lajunya.
  4. Jalan di kanan tapi pelan – jadi “raja jalur cepat” dengan kecepatan kura‑kura.
  5. Jalan di tengah bergerombol – mirip arisan jalanan, ngobrol sambil bikin macet.
  6. Parkir sembarangan – zebra cross dan tikungan seakan garasi pribadi.
  7. Sein nyala sepanjang jalan – entah lupa mematikan atau lagi kampanye “lampu hemat energi”.
  8. Ngerem mendadak tanpa alasan – membuat orang di belakang jantungan lebih dahulu daripada pasien IGD.
  9. Keluar gang langsung tancap gas – seperti pemeran film laga yang yakin semua orang otomatis berhenti.
  10. Motor zigzag ekstrem – merasa sedang latihan MotoGP di jalan bolong.
  11. Main HP sambil nyetir – dunia nyata hanya wallpaper.
  12. Belok tanpa sein – prinsipnya: kalau jodoh pasti belok sendiri.
  13. Nempel ketat dari belakang (tailgating) – ingin jadi boncenger tak resmi.
  14. Putar balik sembarangan – membuat jalan raya jadi panggung akrobat.
  15. Lampu jauh terus menyala – lawan arah ditantang jadi bintang konser dadakan.
  16. Klakson panjang di lampu merah – 0,1 detik lampu hijau dianggap kelalaian dunia.
  17. Majudikitberhenti di macet – menciptakan efek goyang massal antrean.
  18. Serobot antrian lampu merah – pura‑pura tak salah dengan muka sepolos malaikat.
  19. Bonceng bertigaberempat di motor – formasi keluarga plus koper bisa ikut.
  20. Bawa barang absurd di motor – kasur, lemari, bahkan ayam hidup jadi muatan standar.
  21. Nyebrang tanpa tengok – gaya “main Frogger” level hardcore.
  22. Kasih dim terus dari belakang – membuat orang depan merasa diinterogasi.
  23. Balap liar di jalan umum – menyalurkan Fast & Furious versi RW.
  24. Makan sambil nyetir – bakso, ayam goreng, sampai mi cup jadi menu perjalanan.
  25. Klakson di tengah macet total – seakan‑akan suara klakson punya kekuatan teleportasi.
  26. Tidak kasih jalan ambulans – bahkan ada yang malah mengajak balapan; ironinya gengsi mengalahkan nyawa.
  27. Bawa hewan peliharaan sambil nyetir – anjing/kucing di setir, pengemudi jadi penumpang.
  28. Menggunakan jalur lawan arah demi cepat – jalan jadi teka‑teki silang maut.
  29. Ngemudi sambil karaoke full sound system – jalanan berubah jadi panggung konser pribadi.
  30. Ngemudi sambil tidur setengah sadar – mobil/motor berjalan zig‑zag, penumpang dan orang sekitar jadi tester gratis “mode autopilot manusia”.

Analisis Sosial & Kerangka Teoretis

1.     Inkonsistensi dan Lemahnya Komitmen

Perilaku seperti sein kiri tapi belok kanan atau putar balik sembarangan mencerminkan jurang antara tanda dan tindakan. Hal serupa kerap kita temukan dalam kehidupan politik: janji kampanye tidak ditepati, kebijakan berubah tanpa arah, atau dukungan publik mudah berbalik. Menurut Durkheim, kepercayaan publik lahir dari kesadaran kolektif yang dihasilkan oleh totalitas keyakinan dan perasaan bersama. Ketika tanda sosial (rambu, lampu, janji) tidak lagi dipercaya, krisis kepercayaan muncul. Kondisi ini juga dapat diartikan sebagai gejala anomie, yaitu lemahnya keterikatan antara individu dan norma, yang membuat perilaku menjadi tak teratur.

2.     Budaya Jalan Pintas & Pelanggaran Aturan

Menyalip dari kiri, menyerobot lampu merah, atau masuk jalur lawan arah adalah gambaran budaya “jalan pintas”. Praktik serupa terlihat pada korupsi, nepotisme, atau kebiasaan mencari akses cepat tanpa prosedur. Kajian sistematis tentang perilaku berkendara menunjukkan bahwa norma kelompok dan deskriptif memiliki pengaruh kuat: seseorang yang berada dalam kelompok pengemudi ugal‑ugalan cenderung meniru perilaku tersebut. Di sisi lain, norma moral dapat mencegah pelanggaran dengan menumbuhkan rasa kewajiban personal. Ini berarti perubahan harus meliputi pendidikan etika, keteladanan, serta penegakan hukum yang adil. Lingkungan dan desain jalan juga berperan; jalan yang lebar dan minim hambatan membuat orang merasa aman untuk melaju lebih cepat.

3.     Egoisme & Lemahnya Empati

Tidak memberi jalan ambulans, membunyikan klakson panjang saat macet, atau tetap melaju meski pejalan kaki menyeberang menunjukkan dominasi ego atas rasa kemanusiaan. Interaksionisme simbolik menekankan bahwa kita membentuk identitas melalui interaksi; reaksi orang lain menjadi cermin diri. Namun kemampuan merasakan reaksi itu melemah ketika kita terisolasi dalam kabin kendaraan. Riset perilaku manusia menunjukkan bahwa melihat orang lain membantu akan mendorong kita untuk menolong. Karenanya, kampanye publik yang menonjolkan keteladanan dan empati dapat mengembalikan kemanusiaan di jalan.

4.     Solidaritas yang Sempit

Pengendara yang bergerombol di tengah jalan atau bonceng empat orang menunjukkan adanya solidaritas kuat di lingkar kecil, tapi dengan mengorbankan kepentingan publik. Durkheim membedakan antara solidaritas mekanik dan organik: solidaritas mekanik lahir dari kemiripan dan sering beroperasi di masyarakat tradisional, sedangkan solidaritas organik berakar pada saling ketergantungan akibat pembagian kerja. Perilaku bergerombol mencerminkan solidaritas mekanik yang tidak berkembang menjadi solidaritas organik; gotong royong masih ada, tetapi hanya untuk kelompok sendiri. Tantangannya adalah memperluas rasa gotong royong menjadi solidaritas yang menghormati semua pengguna jalan.

5.     Survivalisme Kreatif di Tengah Keterbatasan

Motor membawa kasur, mobil dipakai sambil makan, atau zig‑zag di jalan sempit adalah ekspresi kreativitas adaptif menghadapi keterbatasan. Hal ini sejalan dengan konsep habitus Bourdieu: disposisi yang diwariskan dari sejarah dan lingkungan menghasilkan praktik yang tampak spontan. Masyarakat kita menunjukkan daya hidup tinggi; orang bisa memaksimalkan sumber daya sekecil apa pun. Namun kreativitas tanpa struktur justru rawan risiko. Oleh karena itu, inovasi harus diimbangi dengan sistem yang aman dan berjangka panjang.

6.     Distraksi & Fokus yang Mudah Teralihkan

Main HP sambil nyetir, karaoke di jalan atau makan sambil mengemudi menunjukkan betapa mudahnya fokus terganggu. Studi tentang faktor manusia menekankan bahwa banyak keputusan kita bersifat intuitif dan dipengaruhi lingkungan. Desain kendaraan yang semakin nyaman mengurangi isyarat kecepatan sehingga kita tak sadar melaju terlalu cepat. Ditambah lagi, norma sosial yang permisif terhadap distraksi memperkuat kebiasaan buruk. Pendidikan publik dan rekayasa lingkungan (misalnya, pengingat visual dan auditif) dibutuhkan untuk mengembalikan konsentrasi.

7.     Dominasi, Hierarki & Pamer Kekuasaan

Lampu jauh yang selalu menyala atau klakson panjang adalah simbol dominasi. Mereka yang merasa punya kuasa menuntut ruang lebih besar, seakan jalan milik pribadi. Interaksionisme simbolik menunjukkan bahwa kendaraan dan cara kita menggunakannya menjadi ekspresi identitas dan status. Dalam masyarakat dengan hierarki kuat, ekspresi itu sering berubah menjadi pamer kekuasaan. Mendorong budaya egaliter di jalan membutuhkan penegakan hukum tegas terhadap perilaku intimidatif serta kampanye bahwa “jalan adalah ruang bersama”.

8.     Kelalaian Struktural & Keletihan Kolektif

Pengemudi mengantuk atau ngerem mendadak tanpa alasan adalah cermin keletihan struktural. Banyak pekerja dipaksa melebihi kapasitas, menghadapi infrastruktur buruk, sehingga rawan salah. FHWA menegaskan bahwa kesalahan manusia tidak berdiri sendiri; desain jalan dan kendaraan, serta kebijakan kerja turut menentukan. Perbaikan sistem kerja, transportasi umum yang memadai, dan infrastruktur yang aman dapat mengurangi keletihan kolektif serta meningkatkan keselamatan.

9.     Mengemudi sebagai Panggung & Manajemen Kesan

Selain sebagai cermin etika, jalan raya juga dapat dipahami sebagai panggung sosial. Sosiolog Erving Goffman menggambarkan interaksi sosial sebagai “pertunjukan” yang dibentuk oleh lingkungan dan penonton; individu membangun kesan diri melalui penampilan dan tindakan. Menurut Goffman, bagian terpenting dari pertunjukan adalah front atau tampilan luar yang menstandarkan situasi bagi orang lain. Front menggabungkan pengaturan, penampilan, dan gaya untuk memproyeksikan identitas yang sesuai dengan peran, sementara “manajemen kesan” adalah upaya mengendalikan informasi yang disampaikan agar penonton percaya.

Di jalan raya, kita memainkan berbagai peran: pengemudi, pengendara motor, pejalan kaki, bahkan “penonton”. Modifikasi kendaraan, suara knalpot, lampu strobo, stiker, dan gaya berkendara merupakan alat untuk menampilkan citra diri. Geng motor remaja, misalnya, menunjukkan solidaritas kelompok melalui iring‑iringan dan atribut seragam; pengemudi SUV mewah mungkin merasa perlu mempertahankan status dengan menolak mengalah. Tetapi manajemen kesan ini sering berbenturan dengan keselamatan. Seseorang yang terus menekan klakson atau menyalakan lampu jauh mencoba memaksa orang lain mengakui kehadirannya; dalam bahasa Goffman, ia sedang melakukan “mystification” dengan menutupi perilaku yang tidak sesuai norma. Kesadaran bahwa setiap tindakan di jalan dilihat sebagai pertunjukan publik dapat membantu kita menata ulang peran: bukannya memamerkan ego, kita dapat memproyeksikan keperdulian dan kerendahan hati.

10.  Kebudayaan Nasional & Variasi Budaya Berkendara

Perbedaan perilaku berkendara antarnegara bukan hanya soal infrastruktur, melainkan juga soal budaya. Sebuah studi lintas negara menemukan korelasi kuat antara budaya nasional—diukur dengan dimensi Hofstede—dengan kinerja keselamatan jalan. Budaya berpengaruh bahkan setelah tingkat kekayaan dikendalikan, dan tingkat individualisme menjelaskan variasi dukungan publik terhadap kebijakan keselamatan. Konsep budaya sebagai “pemrograman pikiran” menjelaskan mengapa norma, nilai, dan praktik suatu masyarakat membentuk cara orang menanggapi aturan. Dalam masyarakat yang menghargai kolektivitas tinggi, seperti Indonesia, rasa kebersamaan dapat mendorong gotong royong—tetapi juga dapat melahirkan solidaritas sempit yang mengabaikan kepentingan luar kelompok. Sebaliknya, dalam budaya individualistik, kebebasan pribadi sering lebih ditekankan sehingga regulasi lalu lintas dipandang sebagai pelanggaran kebebasan. Menurut penelitian, dukungan terhadap kebijakan keselamatan lebih tinggi di negara dengan individualisme rendah dan kepercayaan institusional kuat.

Menariknya, beberapa negara yang awalnya menunjukkan penolakan terhadap kebijakan keselamatan justru mencapai kinerja keselamatan lebih baik. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan tidak hanya bergantung pada kampanye, tetapi juga pada penyesuaian kebijakan dengan karakter budaya. Pada konteks Indonesia, kesadaran budaya lokal seperti musyawarah, hormat kepada orang tua, serta tradisi gotong royong dapat dijadikan landasan untuk menginternalisasi etika berkendara: mengutamakan kepentingan bersama di atas ego pribadi.

11.  Desain Jalan, Vision Zero & Keadilan Struktural

Pembahasan perilaku tidak lengkap tanpa menyinggung bagaimana desain jalan memengaruhi tindakan. Harvard Public Health melaporkan bahwa lonjakan 25 persen kematian lalu lintas di Amerika Serikat dipicu oleh meningkatnya kecepatan, kendaraan yang lebih besar, dan distraksi smartphone. Vision Zero—kebijakan keselamatan jalan yang diadopsi di Australia, Kanada, dan Uni Eropa—menunjukkan bahwa korban tewas dan luka berat dapat dikurangi melalui desain jalan yang mempertimbangkan pejalan kaki dan pesepeda serta mendorong pengemudi melambat. Prinsip Vision Zero menekankan bahwa kecelakaan bukan takdir: lingkungan yang dibangun memengaruhi perilaku pengemudi, dan desain harus mengantisipasi kesalahan manusia. Program ini berhasil menurunkan fatalitas hingga 36 persen di negara seperti Swedia dan Denmark, sementara kota Edmonton di Kanada mengalami penurunan 50 persen fatalitas dalam enam tahun.

Fakta ini sejalan dengan penelitian bahwa mempersempit lebar jalan, menyediakan jalur sepeda, zebra cross yang jelas, dan menurunkan kecepatan maksimum membuat pengemudi lebih berhati‑hati. Bahkan, penelitian menunjukkan bahwa ketika pengemudi bisa melakukan kontak mata dengan orang lain, mereka cenderung melambat. Di Indonesia, banyak jalan dibangun tanpa mempertimbangkan interaksi antara pengemudi, pejalan kaki, dan pesepeda; rancangannya cenderung memprioritaskan kelancaran kendaraan pribadi. Untuk mewujudkan keadilan struktural, kita membutuhkan rekayasa jalan yang menganggap keselamatan sebagai hak dasar: trotoar yang layak, jalur sepeda terpisah, dan area penyeberangan yang terlindungi. Perubahan desain ini bukan sekadar estetika, melainkan strategi konkret untuk menanamkan budaya tertib.

12.  Faktor Sosiokultural dalam Kecelakaan & Tantangan Kebijakan

Kecelakaan lalu lintas adalah tantangan kesehatan global: setiap tahun sekitar 1,35 juta jiwa melayang dan lebih dari 50 juta orang terluka. Tanpa intervensi, kematian di negara berpendapatan menengah dan rendah diperkirakan meningkat 60 persen. Studi sistematis menegaskan bahwa kecelakaan bukan semata akibat kendaraan atau jalan; di negara berkembang, faktor manusia berkontribusi 70–80 persen pada insiden. Lebih jauh, faktor sosiokultural—berupa ciri sosial, sifat kepribadian, kebiasaan, dan performa pengemudi—mempengaruhi perilaku di jalan. Karena mengemudi adalah aktivitas budaya dan bentuk perilaku sosial, pendekatan keselamatan harus memperhitungkan nilai lokal.

Sayangnya, banyak negara, termasuk Indonesia, belum memiliki data yang memadai tentang faktor sosiokultural. Kekosongan data ini menghambat pengembangan kebijakan berbasis bukti dan menunda tindakan. Oleh karena itu, penting membangun sistem registrasi kecelakaan yang akurat, mengintegrasikan penelitian sosial dan psikologi, serta melibatkan masyarakat dalam pengumpulan data. Tanpa pemahaman mendalam tentang jaringan faktor sosial, upaya edukasi atau penegakan hukum cenderung gagal.

13.  Membentuk Budaya Keselamatan & Refleksi Mendalam

Melampaui daftar perilaku absurd, kita perlu mempertimbangkan bagaimana membentuk budaya keselamatan yang menanamkan etika dalam setiap perjalanan. Perubahan perilaku tidak dapat terjadi hanya melalui ancaman sanksi; penelitian menunjukkan bahwa orang cenderung meniru perilaku prososial ketika mereka melihat orang lain melakukannya. Oleh karena itu, upaya seperti memperlihatkan contoh pengemudi yang sopan, pengendara yang memberi jalan ambulans, dan pejabat publik yang tertib memiliki dampak besar.

Budaya keselamatan harus dibangun melalui sinergi empat pilar: pendidikan, penegakan hukum, desain infrastruktur, dan transformasi budaya. Program pendidikan tidak hanya berfokus pada aturan, tetapi juga pada nilai seperti empati, tanggung jawab, dan kesadaran kolektif. Penegakan hukum yang konsisten perlu didukung oleh sistem peradilan yang adil agar aturan tidak dipandang sewenang‑wenang. Desain infrastruktur harus mengikuti prinsip Vision Zero: mengakomodasi kesalahan manusia dan menciptakan situasi yang secara intuitif mendorong perilaku aman. Transformasi budaya, sebagaimana dicontohkan oleh perubahan sikap masyarakat terhadap mengemudi dalam penelitian lintas budaya, memerlukan dialog publik, media, dan seni untuk menormalisasi etika berkendara sebagai bagian dari identitas nasional.

Akhirnya, refleksi pribadi juga penting: setiap pengemudi adalah bagian dari solusi atau masalah. Ingatlah bahwa setiap sein, rem, atau klakson adalah pernyataan tentang siapa kita dan masyarakat apa yang ingin kita bangun. Jika kita bercita‑cita menjadikan Indonesia maju dan beradab, kita tidak boleh meremehkan etika di jalan. Jalan raya adalah sekolah karakter terbesar; etika berkendara kita akan menular ke budaya antre, budaya taat hukum, dan sikap terhadap perbedaan. Mari jadikan perjalanan sehari‑hari sebagai ritual membangun bangsa: dengan menghormati sesama, kita menghormati diri sendiri dan masa depan Indonesia.


Jalan Raya sebagai Miniatur Bangsa

Jika kita kelompokkan perilaku di atas dalam sebuah peta pikiran, terlihat bahwa lalu lintas bukan sekadar urusan kendaraan, melainkan miniatur bangsa: ada aturan, ada kekacauan, ada kreativitas, ada ego, ada solidaritas. Berikut tabel singkat untuk merangkum tiga puluh perilaku absurd beserta makna sosialnya dan refleksi untuk bangsa Indonesia. Tabel ini tidak memuat kalimat panjang agar mudah dibaca dan diingat.

No.Perilaku AbsurdMakna & Refleksi
1Sein kiri belok kananInkonsistensi antara kata dan tindakan; menurunkan kepercayaan publik
2Mendahului dari kiriBudaya jalan pintas; aturan dianggap hambatan
3Gas + klakson, minus remAgresif dan egois; memaksa orang lain ikut ritme diri
4Jalan di kanan tapi pelanMenguasai posisi tanpa produktivitas; menghambat laju bersama
5Jalan bergerombolSolidaritas sempit; gotong royong untuk kelompok sendiri
6Parkir sembaranganRuang publik dianggap milik pribadi
7Sein nyala terusPesan tak jelas; identitas bangsa membingungkan
8Rem mendadakKebijakan reaktif; rakyat jadi korban
9Keluar gang langsung gasEgo tanpa perhitungan; keselamatan orang lain dikorbankan
10Motor zig‑zagSurvival kreatif; adaptif tapi berbahaya
11Main HP sambil nyetirDistraksi tinggi; mudah mengalihkan fokus dari hal penting
12Belok tanpa seinMinim komunikasi; keputusan sepihak
13TailgatingIkut‑ikutan tanpa jarak kritis; budaya latah
14Putar balik sembaranganLemah komitmen; mudah mundur dari kesepakatan
15Lampu jauh terusPamer kuasa; dominasi menyilaukan
16Klakson panjang di lampu merahTidak sabar; proses dianggap penghambat
17Maju‑dikit‑berhentiGerak tanpa arah; boros energi tanpa strategi
18Serobot lampu merahSiapa cepat dia dapat; aturan lemah
19Bonceng tiga‑empatSurvival keluarga; ekonomi mengalahkan keselamatan
20Bawa kasur/lemariKreativitas adaptif; inovasi tanpa keamanan
21Nyebrang tanpa tengokPercaya atau cuek; konsekuensi diserahkan ke orang lain
22Kasih dim terusDominasi paksa; tekanan hierarkis
23Balap liarEnergi muda tak tersalurkan; minim ruang ekspresi aman
24Makan sambil nyetirEfisiensi semu; multitasking berbahaya
25Klakson di macet totalKomplain tanpa solusi; bersuara keras tapi tak mengubah keadaan
26Tak kasih jalan ambulansEgo mengalahkan kemanusiaan; nyawa jadi nomor dua
27Bawa hewan sambil nyetirUrusan privat masuk ruang publik; batas publik‑pribadi kabur
28Jalur lawan arahTidak percaya sistem; aturan dilawan
29Karaoke full sound systemHiburan dominan; ruang publik jadi panggung ego
30Nyetir setengah tidurKeletihan struktural; sistem memaksa di luar kapasitas

Refleksi & Harapan

Melihat tiga puluh perilaku absurd ini, benang merahnya jelas: aturan ada tetapi sering diabaikan, kepentingan pribadi mengalahkan kepentingan umum, solidaritas masih sempit, kreativitas tinggi namun tidak aman, dan rasa kemanusiaan rapuh ketika berbenturan dengan ego. Jalan raya yang semrawut bukan semata urusan polisi, melainkan cermin cara kita mengelola masyarakat dan rasa kebersamaan.

Pertanyaannya kini, apakah kita pernah melakukan salah satu dari perilaku di atas? Apakah hal itu memperbaiki atau justru merusak wajah sosial kita? Banyak orang hanya taat aturan ketika ada polisi; helm dipakai bukan karena sadar keselamatan, tetapi takut ditilang. Padahal kesadaran moral jauh lebih efektif daripada ketakutan. Kajian tentang norma menunjukkan bahwa keteladanan orang tua dan komunitas sangat penting: norma moral yang kuat mendorong orang mematuhi aturan tanpa perlu pengawasan. Sebaliknya, norma kelompok yang permisif terhadap pelanggaran akan membuat individu meniru kebiasaan buruk.

Maka perubahan harus dimulai dari diri sendiri dan lingkungan terdekat. Memberi jalan kepada ambulans, berhenti di lampu merah meski jalan sepi, atau menggunakan sein dengan benar adalah latihan empati dan disiplin. Tindakan sederhana ini melatih kita menjadikan jalan sebagai ruang bersama yang aman, adil, dan manusiawi. Bila kesadaran ini tumbuh, lalu lintas akan berubah menjadi ruang belajar etika sosial yang paling nyata; ketika kita memakai helm karena sadar, kita sedang membangun fondasi keadilan dan keselamatan bersama.

Penutupnya sederhana namun mendalam; jalan raya adalah cermin masyarakat. Jika wajahnya kusut, mentalitas kita bermasalah. Namun bila kita membenahi perilaku di jalan, dampaknya akan menular ke budaya antre, budaya taat hukum, hingga kepercayaan dalam membangun bangsa. Mari mulai dari hal kecil; baik di jalan, baik Indonesia.

Categories: ARTIKEL