ProKlim dan REDD+ di Kalteng: Menyatukan Langit dan Bumi

Published by Yudha Agung on

Azharuddin – Perhimpunan Teropong

ProKlim bukan sekadar program pelengkap. Di Kalimantan Tengah, ia telah berjalan, didukung, dan menjadi bagian penting dari pengembangan REDD+. Ini momentum yang harus dimanfaatkan, bukan hanya dirayakan. REDD+ memberi kita kerangka besar dan sumber daya, tapi ProKlim memberi kita jejak di tanah—di desa, di hutan, di komunitas.

Sering kali, REDD+ bergerak di tingkat provinsi dan nasional, berbicara dalam bahasa teknis dan laporan. Sementara itu, ProKlim hadir di dapur rumah tangga, di sawah, dan di kelompok tani. Itulah kekuatannya: ia membawa isu global ke tingkat lokal, membuat masyarakat merasa menjadi bagian dari solusi.

Kita perlu menyadari bahwa keberhasilan REDD+ bergantung pada seberapa dalam ia bisa berakar. Di sinilah ProKlim memainkan peran penting. Ia bisa menjadi jembatan antara kebijakan dan kenyataan, antara rencana dan tindakan. Lewat kegiatan seperti konservasi air, penghijauan, pertanian ramah iklim, dan pengelolaan sampah, warga tidak hanya beradaptasi terhadap perubahan iklim—mereka juga menjaga hutan dan memperkuat nilai-nilai lokal.

Tentu saja, tantangan tetap ada. Koordinasi antar pihak bisa menjadi rumit. Kadang REDD+ dan ProKlim berjalan sendiri-sendiri, masing-masing dengan target dan mekanismenya. Kita perlu menyatukan arah. Caranya? Mulailah dari bawah. Libatkan desa dalam perencanaan, beri ruang bagi inisiatif lokal, dan dorong agar pendanaan iklim sampai ke komunitas.

Keuntungannya besar: masyarakat merasa dihargai, kegiatan menjadi berkelanjutan, dan proyek iklim tak hanya berakhir di dokumen. Tapi jika integrasi ini gagal dikelola, kita bisa terjebak dalam jebakan administratif—banyak rapat, sedikit aksi. ProKlim bisa kehilangan rohnya jika hanya jadi label untuk laporan proyek.

Maka, mari jadikan ProKlim sebagai bagian nyata dari arsitektur REDD+ di Kalteng. Bukan hanya tambahan, tapi fondasi. Bukan hanya cerita sukses, tapi cara kerja baru. Dengan begitu, kita tidak hanya menjaga hutan untuk dunia, tapi juga membangun masa depan yang lebih kokoh bagi masyarakat kita sendiri.

Ini bukan soal memilih antara langit dan bumi. Ini soal menyatukan keduanya—dan menjadikan Kalimantan Tengah contoh nyata bahwa solusi iklim terbaik datang dari kerja bersama, dari bawah ke atas, dari desa ke dunia.

Baca juga lainnya : QUO VADIS REDD+ KALTENG dan SAFEGUARD ADALAH PONDASI, BUKAN TAMBALAN!
Categories: ARTIKEL